"UNESA, AAL, dan Tugu Pahlawan adalah Simbol Ilmu, Pertahanan, dan Perjuangan Indonesia"



 A. UNESA

Perjalanan dimulai sejak pagi hari, saat rombongan kami tiba di gerbang Kampus Lidah Wetan UNESA. Dari kejauhan, kampus ini terlihat megah namun tetap asri. Pepohonan rindang, taman-taman terawat, dan arsitektur bangunan yang modern membuat suasana terasa sangat akademis dan nyaman.Setibanya di lokasi, kami disambut oleh tim Humas UNESA dengan ramah dan penuh semangat. Mereka memberikan pengenalan tentang sejarah UNESA yang dulunya merupakan IKIP Surabaya  hingga berkembang menjadi universitas besar yang tidak hanya mencetak calon guru, tetapi juga profesional di berbagai bidang.

Presentasi mereka mencakup:
-Penjelasan fakultas dan program studi.
-Jalur pendaftaran mahasiswa baru.
-Kehidupan mahasiswa dan berbagai organisasi kampus.
-Beasiswa dan peluang pertukaran pelajar ke luar negeri.

Kunjungan ini bukan hanya soal melihat bangunan kampus, tapi tentang menyerap semangat perjuangan dalam dunia pendidikan. UNESA memberi gambaran jelas bahwa kuliah bukan hanya soal gelar, tapi tentang membentuk karakter, nilai, dan kontribusi nyata untuk masyarakat.Kami pulang dengan semangat baru. Beberapa di antara kami bahkan mulai menjadikan UNESA sebagai pilihan utama untuk masa depan. Siapa tahu, langkah kami berikutnya akan kembali ke kampus ini bukan sebagai pengunjung, tapi sebagai mahasiswa.

Berikut ada ancaman dan solusi di UNESA:

1. Ancaman: Masuknya Mahasiswa Tanpa Seleksi yang Transparan (Korupsi, Titipan, Nepotisme)

Penjelasan: Jika penerimaan mahasiswa melalui jalur yang tidak sah, seperti “titipan orang dalam”, maka akan mencederai prinsip keadilan dan meritokrasi.

Solusi:

-Meningkatkan transparansi dan pengawasan sistem seleksi masuk (SNBP, SNBT, Mandiri).
-Audit dan evaluasi berkala terhadap sistem penerimaan.
-Laporan terbuka dari Ombudsman atau pihak independen.

2. Ancaman: Ketimpangan Akses Informasi Jalur Masuk bagi Calon Mahasiswa dari Daerah Terpencil

Penjelasan: Banyak siswa di daerah kurang informasi soal jalur masuk Unesa, padahal mereka punya potensi.

Solusi:

-Kampus melakukan program sosialisasi daring dan luring secara merata.
-Kerja sama dengan sekolah-sekolah daerah lewat program “Unesa Goes to School”.

3. Ancaman: Calon Mahasiswa Terjebak Informasi Hoaks atau Calo Palsu Jalur Mandiri

Penjelasan: Ada pihak-pihak tak bertanggung jawab yang menjanjikan “bisa masuk Unesa” dengan membayar.

Solusi:

-Edukasi digital literasi kepada siswa SMA.
-Pengumuman resmi hanya lewat situs dan akun media sosial kampus.
-Penindakan hukum bagi calo dan pelaku penipuan.





B. AKADEMI ANGKATAN LAUT


Setelah melakukan kunjungan ke unesa,berikutnya kami berlanjut ke Akademi Angkatan Laut (AAL). Setelah sampai di sana suasana berbeda langsung terasa lebih tertib, penuh kedisiplinan, dan semangat patriotisme. Di sinilah para taruna ditempa menjadi perwira TNI Angkatan Laut, penjaga kedaulatan laut Indonesia.
Kami diberi pengenalan tentang sejarah AAL, sistem pendidikan militer, serta melihat langsung latihan fisik dan taktik taruna. Disiplin, kekompakan, dan keberanian
tampak jelas dalam setiap gerak langkah mereka. AAL menyadarkan kami bahwa pengabdian kepada bangsa tidak selalu melalui jalur pendidikan sipil  tetapi juga melalui militer. Nilai-nilai bela negara, tanggung jawab, dan keberanian menjadi pelajaran utama yang kami bawa pulang.

Akademi Angkatan Laut adalah tempat para calon perwira laut dibentuk. Di sini, pemuda-pemudi terbaik bangsa dididik bukan hanya menjadi pemimpin militer, tetapi juga penjaga kehormatan dan kedaulatan maritim Indonesia. Melalui program pendidikan yang intensif dan penuh disiplin, AAL telah melahirkan banyak perwira TNI AL yang tangguh dan berintegritas.

Momen-Momen Berkesan dalam Kunjungan AAl:

1. Sambutan Hangat dan Pengarahan Awal

Kami diterima dengan penuh keramahan oleh jajaran perwira AAL. Dalam ruang briefing, kami diberi pengantar mengenai sejarah AAL, peran TNI AL dalam menjaga perbatasan laut, serta kehidupan taruna yang penuh tantangan namun membanggakan.

2. Menyaksikan Kehidupan Taruna

Berjalan di sekitar asrama dan lapangan upacara, kami menyaksikan langsung aktivitas para taruna  dari latihan fisik, baris-berbaris, hingga simulasi taktis di lapangan. Tidak ada keraguan bahwa kedisiplinan adalah napas utama kehidupan mereka. Wajah-wajah muda penuh semangat itu menunjukkan bahwa menjadi seorang perwira bukanlah tentang kekuatan semata, melainkan tanggung jawab.

Kunjungan ini menyadarkan kami bahwa cinta tanah air bukan hanya lewat kata-kata, tapi juga lewat tindakan nyata seperti yang dilakukan para taruna AAL.

Ada dua ancaman AAL di dalam negeri maupun di luar negeri beserta solusinya:

A. Ancaman dari Dalam Negeri:

1. Rendahnya semangat bela negara:
Generasi muda makin kurang peduli pada negara.

2. Radikalisme dan intoleransi:
Mengancam persatuan bangsa.

3. Hoaks dan ujaran kebencian di medsos:
Bisa picu konflik antarwarga.

Solusi:

-Pendidikan bela negara sejak dini.
-Kegiatan cinta tanah air: upacara, diskusi, kunjungan ke AAL.
-Bijak bermedsos dan cek info sebelum sebar.


B. Ancaman dari Luar Negeri:

1. Pelanggaran wilayah laut:
 Kapal asing masuk tanpa izin.

2. Illegal fishing:
Merugikan ekonomi kita.

3. Penyelundupan lewat laut:
 Jalur laut jadi celah masuk barang terlarang.

 Solusi:
-Patroli rutin TNI AL.
-Gunakan teknologi maritim (satelit & radar).
-Kerja sama internasional.
-Libatkan masyarakat pesisir.





C. MONUMENT TUGU PAHLAWAN


Setelah dua kunjungan yang membuka wawasan kami ke UNESA yang memancarkan semangat akademik dan ke Akademi Angkatan Laut (AAL) yang menanamkan disiplin serta bela negara kami melanjutkan perjalanan menuju salah satu ikon perjuangan Kota Surabaya, yakni Tugu Pahlawan. Tugu Pahlawan bukan sekadar monumen. Ia adalah simbol perlawanan rakyat Surabaya melawan penjajah pada 10 November 1945, sebuah momen heroik yang menjadi tonggak lahirnya Hari Pahlawan Nasional.

kawasan Tugu Pahlawan, kami disambut oleh suasana tenang dan khidmat. Di tengah kota yang sibuk, tugu setinggi 41,15 meter ini berdiri gagah, seperti menegur kami agar tak lupa pada pengorbanan para pejuang.
Kami mengunjungi Museum Sepuluh Nopember yang berada di bawah tugu. Di dalamnya, tersimpan:

-Rekaman suara pidato Bung Tomo yang legendaris.
-Foto-foto perjuangan rakyat Surabaya.
-Miniatur medan pertempuran dan senjata peninggalan zaman revolusi.

Melalui semua itu, kami bisa membayangkan betapa besar semangat dan keberanian rakyat saat mempertahankan kemerdekaan, meski dengan perlengkapan seadanya.

Kunjungan ini tidak hanya memperkaya wawasan, tapi juga membangkitkan semangat untuk terus meneladani nilai-nilai perjuangan dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai pelajar, warga negara, maupun calon pemimpin masa depan.

Berikut ancaman dan solusi Tugu Pahlawan:

1. Kurangnya Kesadaran Sejarah:
Generasi muda banyak yang tidak tahu nilai sejarah dan makna perjuangan yang ada di balik Tugu Pahlawan.

2. Komersialisasi Berlebihan:
Area sekitar tugu kadang dimanfaatkan untuk kegiatan komersial yang mengurangi nilai kesakralan dan kehormatan situs.

3. Kerusakan Fisik dan Vandalisme:
 Coretan, sampah, atau perusakan fasilitas umum mengancam kelestarian tugu sebagai warisan budaya.

4. Minimnya Perawatan dan Pelestarian:
Kurangnya perawatan dapat menyebabkan kerusakan struktural dan penurunan nilai estetika serta edukatif.


 Solusi:

-Pendidikan budaya dan sejarah sejak sekolah dasar.
-Kegiatan kebangsaan di lokasi bersejarah, seperti upacara atau tur edukatif.
-Peraturan tegas terhadap vandalisme dan pelanggaran di area tugu.
-Pelibatan komunitas lokal dalam menjaga dan merawat situs budaya.





PENYUSUN:

PKN KELOMPOK 2 

Kelas: XI-10






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keanekaragaman Hayati Indonesia

Keanekaragaman Hayati Indonesia